Bedah Buku Asmaul Husna Quotient, Maha Karya Gus Salam YS di MRBJ
Menemukan ‘Rumah’ di Dalam Diri, Sebuah Perjalanan Spiritual




AHQNews – Di tengah lanskap Bintaro Jaya yang identik dengan ritme cepat kehidupan urban, suasana berbeda terasa di ruang utama Masjid Raya Bintaro Jaya (MRBJ), Minggu (25/1/2026). Ratusan jamaah duduk hening, seolah waktu melambat. Tidak ada notifikasi gawai, tidak ada percakapan sela. Yang hadir hanyalah kesadaran tentang sebuah perjalanan pulang, bukan ke alamat fisik, melainkan ke ruang terdalam diri manusia.
Pagi itu, AHQ Center Indonesia menggelar bedah buku Asmaul Husna Quotient (AHQ): Kecerdasan Ilahi dalam Diri Manusia. Buku ini bukan sekadar karya intelektual, melainkan peta jalan spiritual yang digagas dan ditulis langsung oleh Gus Salam YS, SE MM MPd, sosok yang dikenal konsisten menjembatani nilai ilahiah dengan realitas kehidupan modern.
Di hadapan jamaah, Gus Salam YS tidak berbicara tentang spiritualitas sebagai konsep abstrak. Ia mengajak peserta menengok ulang pertanyaan paling mendasar, yakni sejauh mana manusia benar-benar ‘hadir’ bersama Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Menginstal Nilai Ilahi ke Dalam Jiwa
Dalam pemaparannya, Gus Salam YS menjelaskan, bahwa AHQ bertumpu pada praktik mendalam sebagai proses internalisasi nilai-nilai ilahi melalui Asmaul Husna.Bbukan sekadar dibaca, tetapi ‘dihidupkan’ dalam kesadaran.
AHQ dianalogikan seperti proses instalasi perangkat lunak ke dalam jiwa manusia. Nilai-nilai ketuhanan tidak berhenti di lisan, melainkan diprogram ulang ke dalam pola pikir, rasa, dan perilaku. Namun, ada satu prasyarat utama, yaitu meniadakan ego.
Sebelum asmaul husna dilafalkan, seseorang diajak masuk ke kondisi 'nol', melepaskan identitas sosial, jabatan, beban emosi, hingga ambisi personal. Dalam titik inilah relaksasi spiritual terjadi, membuka ruang bagi nilai ilahi untuk bekerja secara jujur dan mendalam.
Membedah AHQ sebagai Proses Transformasi
Bedah buku ini tidak berhenti pada ulasan teks. Gus Salam YS memandu peserta menelusuri Asmaul Husna sebagai perjalanan transformasi batin. Di antara transformasi jiwa dalam konsep AHQ ini:
Penyucian Hati
Misalnya asma Ar Rahman Ar Rahim, peserta diajak menghadirkan kasih sayang Tuhan secara sadar. Di titik ini, luka batin, dendam, dan kebencian yang lama mengeras perlahan dilunakkan.Kedaulatan Jiwa
AHQ menanamkan kesadaran bahwa hanya Allah pemilik otoritas sejati. Dari sini, rasa cemas terhadap masa depan dan ketergantungan pada penilaian manusia mulai luruh.
Tauhid Murni dan Ketergantungan Total
Melalui metode ini manusia diajak kembali pada pusat tauhid, beribadah dan bersandar totalitas hanya kepadaNya, bukan pada makhluk, sistem, atau materi.
Moderator acara, dr Indra Djaman SpPD menilai, pendekatan ini relevan bagi masyarakat urban yang kerap mengalami kelelahan mental dan kehampaan makna di tengah pencapaian lahiriah.
Masjid sebagai Ruang Literasi Spiritual Kontemporer
Diskusi yang berlangsung lebih dari satu jam ini menegaskan lagi peran masjid sebagai pusat literasi spiritual dan peradaban. Bukan hanya tempat ritual, tetapi ruang dialog kesadaran.
Melalui AHQ, kecerdasan spiritual ini tidak diukur dari seberapa banyak pengetahuan agama yang dimiliki, melainkan sejauh mana seseorang menyadari kehadiran Tuhan dalam setiap tarikan napas dan keputusan hidup.
“Keseimbangan antara akal, perasaan, dan ruh adalah fondasi manusia yang utuh,” demikian pesan yang mengemuka sepanjang acara.
Tantangan Setelah Pulang
Bagi banyak peserta, bedah buku ini terasa seperti jeda yang menyelamatkan sebuah kesempatan berhenti dari kebisingan dunia. Namun, Gus Salam YS menegaskan, bahwa perjalanan sejati justru dimulai setelah acara usai.
Tantangannya adalah membawa ‘getaran’ Nama-Nama Indah Allah dalam Asmaul Husna itu ke ruang-ruang paling nyata, ke meja kerja, ke relasi rumah tangga, ke dunia usaha, dan ke interaksi sosial sehari-hari.
Di sanalah AHQ diuji, apakah kecerdasan ilahi benar-benar hidup, atau hanya berhenti sebagai pengalaman sesaat. Dan,di tengah hiruk pikuk Bintaro Jaya, pesan itu menggema pelan namun tegas: “Kedamaian tidak perlu dicari ke luar, ia menunggu untuk disadari, di rumah yang bernama diri sendiri.” (AHQ)

