Kajian Pesantren Ramadan Online Bersama Ustazah Niken Kencono Ungu
Pulang dengan Niat Menyalakan Cahaya Al Furqan


AHQNews - Ahad malam (22 Februari 2026), layar-layar kecil menyala. Wajah-wajah dari berbagai kota di Nusantara terhubung dalam satu ruang yang sama, Pesantren Ramadan Online AHQ.
Tak kurang dari 80 peserta mengikuti kajian awal Ramadan yang menghadirkan Ustazah Niken Kencono Ungu dari Wonosobo.
Tema yang diangkat sederhana, tetapi menentukan seluruh perjalanan Fase Pertama Ramadan, Pulang dengan Niat. Ramadan, kata Ustazah Niken, tidak dimulai dari banyaknya amal, namun dimulai dari arah.
“Ramadan bukan tentang seberapa banyak yang kita lakukan. Tetapi ke mana hati kita menghadap,” ucap Ustazah Niken.
Kalimat itu seolah mengetuk ruang batin yang lama tak disapa. Sebab seringkali, manusia sibuk menata jadwal ibadah, tetapi lupa menata niat.
Cahaya yang Menuntun, Bukan Sekadar Ritual
Puasa, dalam penjelasannya, adalah langkah pulang. Pulang berarti memindahkan orientasi jiwa, dari dunia menuju Allah. Dari mencari validasi manusia menuju keridaan Ilahi.
Di titik inilah, ia memperkenalkan makna Cahaya Al Furqan, cahaya pembeda antara haq dan batil. Cahaya yang tidak hanya bekerja di pikiran, tetapi juga dalam perilaku.
Ia menuturkan kisah tentang respons fisik ketika seseorang menerima sesuatu yang tidak halal, tangan terasa ‘gatal’, hati gelisah, tubuh menolak. Begitu pula ketika mendengar ghibah, telinga seakan panas, batin ingin menjauh.
“Kalau ruh sudah tertuntun cahaya, raga pun ikut menolak maksiat,” jelasnya.
Cahaya itu tidak membuat manusia sempurna, namun membuat manusia peka.
Amal Bernyawa dan Keikhlasan yang Lapang
Ramadan sering kali identik dengan kuantitas, berapa juz, berapa rakaat, berapa sedekah. Namun malam itu, peserta diajak masuk ke wilayah yang lebih sunyi, yakni kualitas niat.
“Amal kecil dengan niat yang lurus akan bercahaya. Amal besar dengan niat bercampur akan terasa hampa.”
Cahaya Al Furqan, menurut Ustazah Niken, melahirkan pribadi yang tulus dan tidak pamrih. Berbuat baik tanpa menunggu balasan. Tidak mengungkit-ungkit kebaikan lama. Tidak kecewa ketika kebaikan tak kembali dalam bentuk yang sama.
“Shalat pun menjadi bernyawa. Tilawah menjadi dialog. Sedekah menjadi ketenangan.
Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi merasakan pulang setiap kali bersujud,” terangnya.
Ramadan: Rahmat, Bukan Tekanan
Pada lima hari awal Ramadan ini, ia mengajak peserta merasakan sesuatu yang sering terlewa, Allah sedang mendekat dengan rahmatNya, bukan dengan cambuk. Jiwa yang lelah tidak ditolak, ia dipeluk.
Disampaikan lebih jauh, taubat bukan lahir dari ketakutan, tetapi dari cinta. QS Ali Imran ayat 133–134 disebut sebagai panggilan untuk bersegera menuju ampunan yang seluas langit dan bumi, diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa, yang mampu menahan amarah, yang memaafkan.
“Menahan amarah bukan berarti tidak pernah marah. Marah adalah manusiawi. Tetapi cahaya membuat seseorang tidak dikuasai oleh amarahnya,” ujarnya.
Dalam praktiknya, ia membagikan langkah sederhana namun dalam:
Diam tiga detik sebelum bereaksi
Tarik napas sambil menyebut nama Allah
Berwudhu, membasahi ubun-ubun
Shalat sunnah dua rakaat
Tidak mengambil keputusan saat marah
“Amarah yang disinari cahaya akan tunduk, bukan meledak,” tuturnya.
Dunia di Tangan, Bukan di Hati
Satu di antara tanda cahaya menetap, lanjutnya, adalah ketika hati condong ke akhirat tanpa menafikan dunia. Dunia tetap digenggam, tetapi tidak dimasukkan ke dalam hati.
Ujian hidup tidak lagi mengguncang fokus ibadah. Masalah tetap ada, tetapi tidak memutus hubungan dengan Allah.
Cahaya yang Harus Dijaga
Lebih dalam dijelaskan, bahwa Ramadan bukan sekadar momentum mendapatkan cahaya, tetapi menjaga agar cahaya itu tidak pergi selepas bulan suci.
Ia pun menyebutkan beberapa langkah:
Jaga kehadiran hati dalam setiap interaksi.
Lepaskan luka dan perlawanan batin.
Berhenti menyalahkan orang lain atas kegagalan hidup.
Muhasabah dan catat amal yang ingin dipertahankan.
Akhiri hari dengan tawakal.
“Dan yang terpenting: jangan menunda taubat. Umur bukan milik kita. Setiap saat Allah mengambil nyawa dan ruh kita. Bisa saja satu jam lagi, besok, atau lusa, kapan pun terserah Allah,” tandasnya.
Pulang Sebelum Dipanggil
Kajian malam itu ditutup dengan ajakan sederhana namun dalam, berani mengakui dosa, beristighfar sebanyak-banyaknya, dan berjanji sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya.
Ramadan kali ini, kata Ustazah Niken, jangan hanya menjadi rutinitas tahunan. Jadikan ia wasilah untuk benar-benar pulang sebelum benar-benar dipanggil.
Ramadan dimulai dari niat. Dari arah yang benar sejak hari pertama, seluruh perjalanan akan mengikuti.Luruskan niat, “Ya Allah, aku lelah berjalan sendiri. Aku ingin kembali kepadaMu.” (AHQ)




