Opening Pesantren Ramadan Online AHQ
Gus Salam YS: Ramadan Momentum Totalitas Bekerja untuk Allah
AHQNews -Ramadan bukan sekadar bulan ibadah rutin, melainkan momentum totalitas untuk mendapatkan cahaya Al Furqon dan Lailatul Qadar. Hal itu disampaikan Gus Salam YS dalam pembukaan rangkaian Pesantren Ramadan Online AHQ, melalui pertemuan zoom pada Senin (16/02/2026) malam, yang menekankan pentingnya perubahan hati sebagai indikator keberhasilan ibadah.
Wujud Pahala Adalah Cahaya
Dalam penjelasannya, Gus Salam YS menekankan bahwa pahala bukanlah sesuatu yang bersifat materi. Pahala adalah Nur atau cahaya yang menjadi bekal kehidupan akhirat.
“Bentuk pahala itu Nur. Bukan uang. Dan kita butuh cahaya itu,” katanya.
Ramadan, lanjutnya, adalah kesempatan besar untuk membangun pondasi totalitas mendekat kepada Allah. Ia bahkan mengingatkan para peserta Pesantren Ramadan Online AHQ, bahwa sebelas bulan bekerja untuk dunia, maka satu bulan harus dikhususkan bekerja untuk Allah.
Lebih jauh Gus Salam menegaskan, bahwa Ramadan memiliki tiga fase utama, yakni:
1. Fase Rahmat
Targetnya adalah cahaya Al Furqon, yaitu kemampuan membedakan yang hak dan batil serta meninggalkan maksiat.
“Indikatornya jelas, jika seseorang masih melakukan kezaliman meski tahu itu salah, berarti cahaya Furqonnya belum kuat,” tandas Gus Salam YS.
2. Fase Maghfirah (Pengampunan)
Taubat, menurutnya, tidak cukup hanya memohon ampun. Harus lengkap dengan dzikir tiga Asmaul Husna;
Al Ghafar: memohon ampun
At Tawwab: agar taubat diterima
Al Afuww: agar dosa dihapus
“Kalau hanya minta ampun tapi belum dihapus, belum maksimal,” jelasnya.
3. Fase Kemuliaan (Lailatul Qadar)
Fase ini menjadi puncak Ramadan. Targetnya adalah cahaya Lailatul Qadar masuk ke dalam hati.
“Indikatornya bukan melihat malaikat turun, melainkan perubahan hati. Yaitu, hilangnya kebencian, dendam, dan perilaku menyakiti orang lain, dan sebagainya,” terangnya.
Dalam pemaparan lebih dalam lagi, Gus Salam mengingatkan agar para santri dan peserta pesantren online AHQ tidak menyia-nyiakan fase 10 hari terakhir, atau malam 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan dengan kesibukan duniawi.
“Yang sering terjadi kan, di 10 hari terakhir Ramadan, orang disibukkan berburu diskon lebaran. Jangan sibuk ke mal pada malam-malam kemuliaan. Itu rugi,” pesannya tegas.





Ia pun menganjurkan memperbanyak salat tasbih, iktikaf, dan zikir pada malam-malam tersebut. Menurutnya, cahaya Al Furqon dan Lailatul Qadar mampu melemahkan nafsu angkara murka dan mengangkat derajat jiwa menuju nafsu mutmainnah, yaitu jiwa yang tenang sebagai syarat masuk surga.
Indikator Keberhasilan Ramadan
Keberhasilan Ramadan, lanjut Gus Salam, akan terlihat dari perubahan setelahnya. Jika seseorang tidak lagi menyimpan dendam, tidak korupsi, tidak menyakiti, dan semakin peduli kepada sesama, berarti cahaya telah masuk ke dalam hatinya.
“Allah itu melihat hati. Karena itu, target kita adalah perubahan ada di hati,” tegasnya.
“Semoga kita mendapatkan Al Furqon, diampuni dan dihapus dosanya, serta memperoleh cahaya Lailatul Qadar,” imbuh Gus Salam. (AHQ)
